25 Juni 2009

Tangga Demokrasi, Apa Kabarmu?

Oleh : Koirom


Beberapa tempat, sebagai wahana kultural mahasiswa telah dirampas oleh tangan-tangan penguasa. Mahasiswa, seakan tidak punya lagi media kultural untuk mengembangkan skill keilmuannya. Meskipun ada satu tempat yang dijadikan mahasiswa sebagai wahana berkreasi, yaitu “Taman Parkiran Terpadu Fakultas Dakwah atau Depan Multi Perpose”. Itupun seakan terpaksa. Mahasiswa dikebiri birokrasi!


Begitu susahnya menempuh pendidikan di rumah sendiri. Lebih kejam dari srigala, padahal srigalapun tak tega memangsa darah dagingnya sendiri.


Itulah sekilas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hari ini. “Kampus putih, kampus rakyat dan kampus perlawanan”. Semua itu adalah nama yang telah melekat erat pada tubuh UIN Sunan kalijaga. Dan tidak rela mahasiswa, jika nama itu harus punah. Ibarat ruh dalam tubuh manusia, sebagai manusia pengontrol dunia.


“Dulu, sebelum saya masuk ke UIN, saya pernah mendengar, bahwa UIN adalah kampus paling murah dan kualitas paling baik dari sekian banyak kampus berbasis Islam di Indonesia”. Cletusan itu muncul dari salah satu mahasiswa angkatan 2006 sebagai curahan setelah terjun sekian lama di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dulu, sebelum tahun ajaran 2006 (sebelum gempa) pernyataan itu benar. Pertama, dengan berbagai kualitas pendidikan yang menjanjikan. Kedua, ruang dialektika kultural yang medukung bagi pengembangan skill mahasiswa. Ketiga, ruang berkreasi tanpa henti. Duapuluh empat jam mahasisa dapat memanfaatkan fasilitas kampus. Keempat, unsur kapitalisme pendidikan belum menjarah kampus UIN.


Meskipun dengan bangunan gedung yang tidak terlalu megah, namun kualitas pendidikan dan nuansa pendidikan dapat dirasakan. Bukan bangunan ternyata yang mampu menciptakan nalar kritis dan inofatif mahasiswa dalam perfikir. Namun wahana ligkungan yang sejuk dengan berbagai pepohonan, dihiasi indahnya rumput penuh kehijauan yag menampakkan kesempurnaan alam. Mahasiswa seakan lebih suka dengan hal itu.


“Tangga Demokrasi” kawan, adalah tempat bercengkrama mahasiswa UIN dengan ilmu, menyerukan perlawanan atas kebijakan birokrasi yang tidak memihak mahasiswa, dan agenda mahasiswa lainnya yang menumbuhkan basis pengembangan skill mahasiswa dalam berkreasi. Tangga Demokrasi yang dulu berada tepat di depan masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berlantaikan dua, dibawahnya sebagai tempat berkreasi mahasiswa teater, seni grafi dan LKM lainnya. Sungguh suasana yang membuat rindu mahasiswa ketika mengingat masa tiga tahun silam.


Kini suasana itu telah punah, karena lahan penanam ideologi telah dirampas oleh tikus-tikus berdasi sekalius tuan tanah, tepatnya. Apakah gempa penyebab punahnya lahan iodeologi itu? Ataukah renovasi bangunan UIN yang semakin megah?


Seakan hal itu hanya dijadikan sebagai alasan yang tidak masuk akal oleh pihak birokrasi. Dengan revolusi bangunan yang kian megah, justru semakin banyak mahasiswa mengeluh akan suasana itu. Suasana belajar, sarana dan prasarana, kibijakan sistem yang semakin membuat mahasiswa terasa jenuh dalam selama tiga tahun perubahan.


Perubahan gedung yang semakin heboh, seharusnya mampu membuat mahasiswa semakin heboh pula hirrahnya dalam menggapai pendidikannya. Namun kini sebaliknya.menurut hemat penulis, mahasiswa hari ini punya tanggungjawab terkait tempat yang mampu dijadikan mahasiswa sebagai lahan ideologi, berkreasi, dan menyerukan sebuah perubahan. Dan alangkah sempurnanya jika tempat itu kemudian diberi nama yang mapu disepakati seluruh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebagai “pengganti” tangga demokrasi.


1 komentar: