25 Juni 2009

Nasib Masjid UIN Sunan Kalijaga

Oleh : Ruhul Ulya

Gempa 27 Mei 2006 yang memporak-porandakan Kota Yogyakarta, termasuk Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ikut menyisakan puing-puing bangunan yang tidak lagi layak untuk dipergunakan. Sehingga pihak Universitas berinisiatif merobohkan bangunan lama dan menggantikannya dengan yang baru. Tak terkecuali Masjid, karena sudah dianggap rapuh, maka ia pun ikut dirobohkan. Namun sayang, perobohan bangunan masjid tak secepat pembangunannya kembali. Dalam jangka waktu yang lama, bagan masjid pun tak kunjung berubah. Tentu hal itu menimbulkan sekian pertanyaan tentangnya. Melihat kondisi demikian, Crew Rhetor berkunjung ke rektorat bermaksud menanyakan informasi seputar pembangunan Masjid tersebut. Dengan dana hasil kerjasama IDB (Islamic Deflopment Bank) dan APBN, semua bangunan yang runtuh dibangun kembali, kecuali 3 (tiga) gedung yaitu: gedung rektorat lama, perpustakaan (yang sekarang dipakai Fak. Fishum), dan Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga, ungkap Pak Yusuf di kantornya, Rektorat.

Msih menurut beliau, waktu itu, ketiga bangunan tersebut masih dianggap layak pakai dan hanya memerlukan beberapa renovasi kecil saja untuk perawatan. Pada mulanya, bangunan Maskam (masjid Kampus) UIN Sunan Kalijaga akan tetap dipertahankan, sebab merupakan simbol tersendiri bagi para alumni UIN SUKA pada khususnya dan bagi masyarakat Yogayakarta lingkup luasnya. Pun demikikan bisa dikatakan Masjid Kampus IAIN itu lebih dikenal ketimbang kampusnya. Akan tetapi, setelah dilakukan peninjauan ulang oleh beberapa ahli dalam bidang bangunan, ternyata bangunan Maskam UIN SuKa-Yo sudah tak layak pakai sehingga harus dibuatkan bangunan baru, kemudian oleh pihak kampus, Masjid kampus dipindahkan sementara ka gedung sebelah timur dari gedung MP (Multi purpose)”, lanjut Pak Yusuf dikunjungi Rhetor, Rabu, (13/05) .

Selaku head of administration bureu, beliau juga menambahkan, berdasarkan beberapa faktor yang membuat bangunan Masjid Kampus UIN SuKa tak layak pakai lagi, sehingga harus melakukan rekonstruksi bangunan masjid kampus UIN. Melalui dana APBN-p 2007 sebesar Rp. 15 miliyar. Akan tetapi itu hanya mampu menyelesaikan sampai pada bentuk strukturnya saja, sehingga terjadi kemandegan pembangunan sebagai dampak dari kekurangan dana rekontruksi”.

Dari pihak panitia pembangunan menuturkan bahwa, “target selesai pembangunan Masjid kampus UIN adalah tahun ini, sehingga kalau tidak ada kendala, tertentu akhir tahun ini akan siap pakai. Dan dana kelanjutan sudah ada, yaitu dari APBN Pembangunan Masjid Kampus tahap ke II (dua), dan pembangunan akan di mulai lagi pada bulan Juni mendatang.Diharapkan dengan dana yang sudah ada cukup merampungkan bangunan Masjid kampus UIN SUKA.

Dari segi desain dan ukuran tentu saja berbeda dari bangunan lama, karena diharapkan Masjid Kampus UIN akan menjadi simbol bagi Masjid Kampus dan kebanggaan masyarakat Yogyakrta. Akan tetapi ada beberapa desain bangunan lama yang masih dipertahankan dibangunan baru, yaitu simbol-simbol yang berbentuk pagar mengelilingi bangunan Maskam UIN suka.

Memang, mahasiswa saat ini sedang miris melihat kenyataan, bahwa pembangunan Masjid Kampus tak kunjung usai. Apalagi banyak perubahan yang terjadi ketika tempat yang disebut sebagai “masjid sementara kampus”, kini menjadi ruang sentral ritual penghambaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di nomer dua-kan. Ketika waktu sholat Jum’at datang, dan pada saat itu bebenturan dengan acara yang bisa dibilang lebih rendah maknanya ketimbang ritual keyakinan kita sebagai umat Islam. Dan menurut pengakuan pengelola masjid, “Pasca perpindahan tempat dari bangunan masjid kampus lama ke gedung sebelah timur (MP) terdapat penurunan aktivitas. Mahasiswa yang biasanya menjadikan masjid sebagai tempat tonkrongan mereka dan yang menyukai diskusi serta para penggila idealisme mencapai 40 %, kini telah hilang”.

Pembangunan masjid memerlukan waktu yang segera. Sebab, bagaimana mungkin gedung Multipurpose tersebut selamanya akan dijadikan sebagai tempat ibadah. Sedangkan gedung itu juga digunakan sebagai perhelatan berbagai macam acara, dari resepsi, seminar, temu alumni dan lainnya. Lambatnya pembangunan Masjid seakan menegaskan bahwa tempat beribadah ini tak begitu dianggap penting. Sehingga, pembangunan lebih mengutamakan pengamanan kampus ketimbang menyediakan tempat ritual agama. Tembok kampus misalnya, yang lebih dahulu selesai pembangunannya ketimbang masjid. Serta masih banyak contoh bangunan lain lebih dinomer satukan, sementara masjid dibiarkan terbengkalai tanpa wujud sempurnanya. Sungguh ironis memang, di kampus yang berlebelkan islam, tapi masjid saja tidak punya. Lalu di manakah letak tanggung jawab kita terhadap agama luhur ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar